Kamu tidak pernah membayangkan seberapa lama aku diterjang badai. Kamu tidak pernah tau seberapa besar ketakutanku akan sambaran petir. Kamu tidak mengerti seberapa lama aku berusaha bersabar untuk menanti. Lalu ketika awan gelap menakutkan itu mulai memudar ditelan waktu yang telah beringsut melenyapkan itu semua haruskah aku hanya terfokus bahwa pelangi akan datang setelah badai? Karena pada nyatanya aku melupakan matahari, matahari yang selalu ada bahkan ketika badai datang membentengi semua hal ini dengan kerasnya guyuran kehidupan, dan tololnya aku, aku tidak menyadari. Karena aku terlalu berkutat dengan awan besar hitam yang menghalangi.
Lalu aku tersenyum menatap langit kini, kemana pelangi yang lama aku nantikan? Pergi. Kemana matahari yang selalu berada di dekatku? Masih disini. Ya, masih bersinar. Karena pada dasarnya untuk apa kita menantikan sebuah pelangi di 'akhir' kejadian buruk yang kita terima kalau matahari selalu ada disana, dibalik apa yang telah terjadi. Selalu. Selalu ada.
Jangan salahkan tentang siapa yang selalu ada atau tidak disaat seperti ini atau itu. Karena ada dua kemungkinan, ketika mereka memang pergi atau ketika kita terlalu tidak tau diri untuk sekedar menyadari.
Dan kini akhirnya aku mengerti, aku tidak seharusnya membuang waktuku untuk pelangi. Aku tidak seharusnya berharap gemerlap warnanya untuk mewarnai jalan setapak yang aku lalui dan jalan-jalan lain yang akan aku lalui. Aku seharusnya tidak usah peduli tentang me-ji-ku-hi-bi-ni-u yang dia miliki. Iya aku tidak seharusnya untuk peduli akan hal itu. Matahari mungkin hanya mampu mewarnaiku dengan satu cahaya silaunya. Tapi itu cukup untuk menuntunku menyusuri jalan ini dan mencari jalan keluar tentang berharganya sebuah kehidupan.
Karena pada akhirnya aku sendiri akan memahami, seberapa banyak pun warna yang mampu dia berikan itu tidak akan pernah berarti kalau hanya untuk singgah kemudian pergi. Dan asal kalian tau, satu warna cukup untuk menemani kita menjalani hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar