Kamis, 26 Februari 2015

"kita adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan" 
Katanya sih gitu. Salah satu kalimat yang diciptakan untuk membuat umat manusia berpikir positif untuk dirinya sendiri.

Lagi-lagi gue dilema akan masalah yang sama.
Haruskah gue tetap optimis tanpa perlu realistis? 

Well gue sendiri susah untuk mensejajarkan antara optimis dan realistis. Karena apa yang gue maksud dengan realistis disini adalah yang cakupannya luas.

Gue kadang berpikir sebagaimana pun orang-orang bilang "Bisa kok El! Kamu bisa!" gue akan selalu berpikir "Gimana kalo suatu hari nanti gue sadar kalo gue salah ambil keputusan?" "Gimana kalo apa yang gue bayangkan hari ini gak akan seperti apa yang terjadi di hari mendatang?" "Gimana kalo apa yang ada di hari mendatang adalah badai yang gak pernah gue kalkulasikan dalam perhitungan gue?"

since I'm a thinker gue selalu melakukannya dengan pertimbangan yang matang. Malah terkadang gue overthinking.

Sebenernya daripada disebut pesimis gue sendiri lebih mengkategorikan apa yang gue rasain ini sebagai ketakutan sih.

Gue cuma takut kalo gue salah ambil keputusan dan menyesal di akhir. Gue cuma takut kalo pilihan gue nantinya akan membuat gue berpikir "I'm not supposed to be here"

Tapi gue bisa apa..di balik ketakutan gue..ada yang lebih besar dari ini..dan gue tau untuk menggapai itu

Gue gak boleh jadi pencundang dan membiarkan diri gue kalah sama ketakutan gue sendiri!

Gue udah banyak melewati hujan deras dan badai, and I'm still doing just fine.

Dan gue tau gue akan selalu tetap menjadi penembus badai terhebat dan pendaki gunung tertangguh yang pernah gue tau. 

Selasa, 17 Februari 2015

Hallo

Aku tidak suka hujan.
Aku tidak suka ketika guyuran itu menghambat segalanya. 
Membuatku harus berhenti melakukan apapun yang harusnya kulakukan.
Tanpa aku sadar itu adalah salah satu nikmat dari Tuhan.

Aku selalu bersembunyi dibawah payung ketika hujan turun, atau hanya sekedar mengintip di balik jendela ketika sebagian orang menari bersama hujan. Aku terlalu enggan untuk kebasahan dan terlalu malas untuk nantinya terkena flu. 

Aku bukan tidak tau bagaimana caranya menikmati hujan, aku hanya tidak mau. Menari dalam guyuran hujan sama sekali bukan gayaku. Ketika hujan datang yang kulakukan hanya menggerutu

Begitu pula kamu. Kamu mungkin tidak separah aku dalam membenci hujan. Katanya kamu hanya sedang terkena flu dan tidak ingin flu-mu bertambah parah. 

Dan untuk pertama kalinya aku bersyukur hujan datang menghampiri. Berkat hujan, kamu menetap lebih lama. Kamu singgah meski hanya untuk meneduh.

Dan itu pertama kalinya aku berkata "Syukurlah hujan datang."
Dan pertama kalinya juga aku berkata "Hujan, turun lah lebih lama dan lebih deras."

Karena aku tau, ketika hujan berhenti atau berubah menjadi gerimis, tidak ada lagi alasan bagi kamu untuk berteduh. 

Dan aku hanya akan tetap mengintip di balik jendela. Menunggu hujan datang kembali. Menunggu kamu berteduh sekali lagi.